Dr Maruli Siahaan Sahabat Semua Suku

0
94
Foto-Dr Maruli SIahaan, sedang berbincang dengan tokok NU (Baju Putih tengah), beberapa waktu lalu/Net

Sosok Dr Maruli Siahaan mungkin sudah tidak asing lagi kita dengar. Namanya kini sudah ‘menggema’ ke seluruh pelosok Desa di Sumatera Utara ini, terutama di Kota Medan. Mulai dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa. Bahkan, dikalangan orangtua lanjut usia sekalipun putra batak kelahiran Siborong-borong 3 April 1961 ini begitu terkenal. Karena itu, tidak perlu heran dia (Maruli Siahaan) kerap dipanggil ‘danshui’ yang berarti penyeimbang, berbudi luhur, damai dan berbaik hati.

Selain sebutan dansui purnawirawan Polisi ini juga kerap disamakan dengan Robin Hood. Mengapa sering disamakan dengan Robin Hood? Karena perbuatannya yang dinilai memiliki kemiripan dalam kehidupannya sehari-hari.

Memangnya bagaimana aksi atau perbuatan Robin Hood? Robin Hood, dalam cerita fiksinya digambarkan sebagai seorang pahlawan yang berani menentang tirani dan kediktatoran, korupsi dan perampasan hak rakyat untuk kepentingan penguasa pada jaman itu.

Robin Hood, datang sebagai penyelamat rakyat yang berani menentang perampasan, pemerasan dan lainnya. Seluruh harta rampasan penguasa pada saat itu dirampasnya (Robin Hood) kembali dan diserahkan kepada masyarakat.

Meski tidak sama persis dengan cerita fiksi Robin Hood, namun Dr Maruli Siahaan dalam kesehariannya sudah melakukan itu kepada masyarakat tanpa melihat latar belakang, usia, golongan, Suku, Agama dan Ras.

Sehingga menjadi suatu kewajaran, jika masyarakat mencintai dan sayang pada sosok Purnawirawan Polisi ini, bukan karena mimik wajahnya yang cukup menawan melainkan perbuatanya yang tulus ikhlas.

Mungkin, bagi suami dari Betty br Simanjuntak ini membantu setiap orang yang sedang kesulitan adalah sebuah kebahagiaan. Buktinya, hari-hari kantornya sebelum pensiun dari Kepolisian selalu ramai didatangi masyarakat dari berbagai kalangan. Bahkan, tak jarang diantaranya datang dari pelosok Desa.

“Saya sudah mengenalnya (Dr Maruli Siahaan) lebih 20 tahun. Saat saya menjadi wartawan yang sehari-hari meliput berita-berita kriminal di Poltabes Medan (sebelum berganti nama menjadi Polresta Medan),”kata Zulkifli salah satu wartawan senior di Medan.

Menurut Zulkifli, kala itu Dr Maruli masih berpangkat perwira pertama dan menjabat sebagai Kepala Unit (Kanit) Vice Control (VC). Unit ini memerangi kejahatan bidang perjudian dan asusila dibawah Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim).

“Tetapi, walaupun hanya sebatas Kanit pada saat itu, nama Dr Maruli Siahaan di internal Polri sudah tidak asing lagi. Bahkan, nama baiknya tersiar hingga ke Mabes Polri,”ungkapnya.

Baik didalam, baik pula diluar. Ditengah keluarganya, Robin Hood dari tanah Batak ini juga patut menjadi contoh. Sebab, empat orang anaknya, Kapten (Inf) Jimson Andre Siahaan (Kostrad), Kapten (Pnb) Deddy Surya Putra Siahaan (Lemdik Taruna AAU Yogja), IPDA Tri Boy Alfin Siahaan (Polres Ngawi) dan Serma (Taruna) Tutar Fery Christianto Siahaan. Keempat putra batak ini merupakan jebolan dari Taruna Akademi Militer (Akmil) dari berbagai Matra.

Padahal, jika ditelaah kebelakang, Dr Maruli Siahaan hanyalah anak dari seorang petani miskin di Desa Lobu Siregar, Kecamatan Siborong-borong, Tapanuli Utara dan hampir tidak ada yang menyangka danshui mampu mendorong anaknya menjadi abdi Negara. Ternyata, Mukzizat itu nyata.

Memang, dalam falsafah orang Batak ada disebut Anakhon hi do hamoraon di au artinya kekayaan orantua adalah anak. “Soal  prestasi, selama saya menjadi wartawan belum pernah menemukan sosok polisi seperti pak Maruli ini. Nyaris tak satupun kasus dalam pengungkapannya luput, bahkan itu dilakukannya dalam waktu singkat,”sebutnya.

Dari catatan Zulkifli, sejak mengenal danshui gaya kepemimpinannya saat menjabat di berbagai unit dan satuan sangat memukau dan menarik perhatian. “Sangat menarik perhatian. Bukan hanya saya, tetapi juga wartawan lain terutama masyarakat,”terangnya.

Sabar, Walau Kerap Difitnah

Hidup ini memang seperti roda pedati, kadang diatas kadang dibawah. Sebagai manusia yang tidak sempurna, sebaik apapun manusia di dunia ini ada saja orang yang merasa tidak senang. Meski banyak berbuat baik, Maruli tetaplah manusia biasa. Disaat karirnya ‘melejit’ di Sumut, Maruli justru dimutasi ke luar Sumatera dengan berbagai alasan. Bahkan, beberapa kali diperiksa tim Pengamanan Internal Polri (Propam), walau tak terbukti. Seperti emas, sekalipun dibuang ke dalam lumpur emas tetap saja akan memancarkan cahaya dan selalu dicari.

Saat ditugaskan di Polda Jatim, apa yang dilakukannya di Medan dulunya juga dilakukannya di daerah ini. Sehingga, gelar dansui itu tidak hanya dikenal oleh orang medan saja.

Tak Ada Gading Yang Tak Retak

Tak ada gading yang tak retak. Pepatah ini seolah mengajarkan kita untuk selalu bersyukur kepada sang Khalik atas apa yang kita miliki kemarin, hari ini dan esok. Karena setiap manusia pasti memiliki sejarah perjalanan hidupnya sendiri, dan tak ada pula manusia yang memiliki kesempurnaan dalam menjalani kehidupannya, tak terkecuali dengan Dr Maruli Siahaan, namun sebagai manusia biasa dia sudah bisa disebut ‘pemimpin sukses’ ukurannya adalah keberhasilan anak-anak atau keluarganya menjadi perwira abdi negara, seperti yang sering disampaikan oleh para orangtua dulu. Catatan Zulkifli, Wartawan Senior.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here